REPOSISI PERAN MASJID DALAM KEHIDUPAN UMAT

Posted: March 4, 2009 in 1. Artikel Dosen

Teguh Prawiro 

Sungguh hanya yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tiada khawatir kecuali kepada Allah, yang (mampu) memakmurkan masjid-masjidNya. Semoga mereka termasuk yang mendapatkan hidayah.

(Al- Taubah: 18)

 

Bagi umat Islam, masjid merupakan keniscayaan yang integral dalam beragama dan berkehidupannya. Perikehidupan setiap pribadi muslim sejatinya tidak dapat dipisahkan dari masjid. Meskipun umat Islam diberi keleluasaan untuk beraktivitas dan berkreasi pada batas kompetensi dan kapasitas masing-masing, akan tetapi hatinya harus senantiasa terbuhul erat secara sadar pada masjidnya.

Sejarah panjang Islam telah menunjukkan peran strategis masjid dalam kehidupan umat Islam. Selain sebagai tempat suci untuk beribadah, masjid memiliki kontribusi signifikan bagi pengembangan agama dan kualitas mental spiritual sekaligus pembangunan peradaban umat Islam. Sebuah peradaban yang mampu mencerahkan kegelapan dunia pada masanya.

Dalam spektrum yang lebih luas, sesungguhnya dinamika masjid merupakan indikator bagi kehidupan beragama dan kualitas umat Islam secara umum.

 Ironisnya, peran strategis masjid dalam kehidupan umat Islam yang telah diteladankan Nabi dan umat Islam di masa lalu, seiring dengan perjalanan waktu terdistorsi dan cenderung dipahami sebagai bangunan sakral, bahkan tidak jarang hanya menjadi artefak arsitekturis. Bangunan antik yang hanya dapat dinikmati semata karena keindahannya. Implikasinya, potensi masjid sebagai pusat beragama dan peradaban umat Islam tidak dapat diwujudkan dalam kehidupannya.

 

Signifikansi reposisi peran masjid

Reposisi senantiasa mengandaikan perubahan atau peralihan posisi. Tidak masalah apakah itu posisi baru ataupun kembali pada posisinya semula, karena yang penting adalah proses perubahan atau peralihan itu sendiri. Dengan demikian, reposisi peran masjid mengandaikan perubahan atau peralihan peran masjid dari yang terdistortif selama ini ke arah yang lebih baik dan relevan dengan kehidupan umat Islam.

Selama ini masjid hanya difahami sebagai baitullah “rumah Allah” tanpa disertai definisi dan pengertian yang jelas atasnya. Konsep masjid sebagai rumah Allah tentunya mempunyai implikasi yang bervariatif. Salah satunya, seolah-olah masjid dibangun hanya sebagai rumah Allah, yang tidak layak bagi manusia untuk menghuni bangunan yang dianggap sakral, selain untuk menghamba dan melakukan ritual ibadah dalam arti sempit. Sementara fungsi masjid yang pertama kali dibangun Nabi Muhammad ketika hijrah ke Madinah, masjid Quba, sesungguhnya lebih dari makna sempit masjid sebagai “rumah Allah”, yang senantiasa dipandang sakral.

Ada dimensi sosial yang justeru sama sekali tidak dapat diabaikan berkaitan dengan pembangunan masjid Nabi. Persatuan dan persaudaraan umat Islam adalah salah satu motivator yang melatarinya. Hal ini erat kaitannya dengan kontek sosial-politik pada masa itu yang memerlukan kebersamaan umat Islam untuk menjaga eksistensinya sebagai komunitas baru yang berbasiskan pada agama baru (Islam), berhadapan dengan kafir Quraisy yang selalu memusuhinya. 

Perkembangan selanjutnya, dalam dokumentasi sejarah Islam, menunjukkan peran strategis masjid yang semakin komplek dalam kehidupan umat Islam. Sebagai tempat penyebaran ilmu, tempat musyawarah untuk memutuskan kebijakan-kebijakan strategis, dan bahkan menjadi tempat untuk memutus perkara yang terjadi di kalangan umat Islam (pengadilan).

Karenanya, kontek dan perkembangan zaman yang senantiasa terus berkembang dalam grafik yang meningkat, secara kualitas maupun kuantitas saat ini, menuntut umat Islam untuk lebih mampu secara kreatif dan arif menempatkan peran dan posisi masjid secara ideal dalam kehidupannya. Peran yang mampu merespon secara positif atas setiap fenomena yang terjadi.

 

Masjid dan Generasi Muda Islam

Generasi muda Islam merupakan penerus gerak kehidupan Islam ke depan. Karenanya, umat Islam tidak dapat sama sekali mengabaikan generasi muda dan fenomena yang berkaitan dengan mereka.

Masa muda adalah masa yang penuh dengan proses pencarian jati diri, yang sering diiringi dengan semangat untuk menggugat kemapanan yang dipandang menghambat proses kreatif dan kebebasan yang dipersepsikan secara subyektif. Tidak jarang kreativitas dan kebebasan yang diidamkan generasi muda dilihat secara negatif tanpa adanya kontribusi solusi dengan bahasa dan pengertian yang mampu dicerna mereka.

Implikasinya, banyak di antara generasi muda yang terjebak dalam ruang-ruang hampa tanpa makna, bahkan tidak jarang justeru membahayakan diri dan kepribadian mereka. Fenomena generasi muda yang terjebak dalam mengonsumsi narkoba, misalnya, tidak terlepas sama sekali dari rumitnya permasalahan yang mereka hadapi berkaitan dengan proses pencarian jati diri, tanpa ada tawaran alternatif solusi yang dapat mereka terima.

Di sinilah sesungguhnya masjid dituntut untuk dapat berperan dalam membentuk dan meningkatkan kualitas generasi muda. Salah satunya, masjid harus dapat menjadi tempat dan wahana generasi muda untuk berkreasi dan menyalurkan segenap potensinya. Bukan malah mereka dijauhkan dari masjid, sebagaimana yang sering kita rasakan dan temukan selama ini. Padahal Allah telah berfirman:

“Dan siapakah yang lebih aniaya dari orang-orang yang menghalangi untuk menyebut nama Allah di dalam

masjid-masjid-Nya” (Albaqarah:114)

 

 

Masjid dan Persatuan Umat 

Di samping sebagai tempat ritual beribadah yang berdimensi sakral, masjid semestinya dapat mempersatukan umat Islam dalam ikatan persaudaraan yang harmonis. Karena persatuan bagi umat Islam selama ini seolah-olah hanya dalam idealisasi utopis yang sulit atau bahkan mustahil dapat terwujud. Persoalan-persoalan kecil di antara umat Islam tampak dengan mudah memecahbelah persatuan mereka.

Perbedaan-perbedaan dalam masalah furu’iyah dalam beragama, seperti perbedaan jumlah rakaat tarawih dan qunut dalam subuh, sering memecah jamaah dalam sebuah masjid. Apalagi perbedaan faham dan aliran pemikiran yang dianut. Masing-masing golongan berbangga dengan klaim kebenarannya. Bukankah Allah telah berfirman berkaitan dengan fenomena ini:

 “Kullu Hizb bi ma Ladaihim Farihuun” (Ar Rum: 32)

Bukan eranya lagi, sesungguhnya, bagi umat Islam untuk senantiasa mengagungkan perbedaan, apalagi hanya sekedar asal beda. Karena selama ini justeru umat Islam tidak mampu merengkuh “rahmat” yang semestinya terkandung dalam setiap perbedaan. Perbedaan pada kenyataannya lebih sering memisahkan dan memecahbelah umat Islam dalam kelompok-kelompok secara konfrontatif.

Oleh karena itu, masjid harus mampu menampung setiap perbedaan itu secara proporsional, untuk menggalang persatuan di antara umat Islam. Dan hal ini sangat bergantung kepada kreativitas dan kebijaksanaan umat Islam sendiri. Umat Islam harus mampu menginsyafi setiap perbedaan sebagai sebuah keniscayaan dalam hidup, tapi bukan sebagai alasan untuk membenarkan perpecahan.

Alangkah indahnya kalau kita, umat Islam, tidak hanya mengkiblat Masjid Alharam ketika melakukan ibadah shalat, tapi juga mampu melihat secara jernih persatuan umat Islam, tanpa membedakan golongan, faham, dan aliran pemikiran yang dianut yang terbangun di dalamnya. Sebagaimana yang dikehendaki Firman Allah:

“Dan Berpegang teguhlah Kalian pada tali (agama) Allah,

dan janganlah kalian bercerai berai”

 

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s