KECERDASAN EMOSIONAL

Posted: March 14, 2009 in 1. Artikel Dosen

Yunas Konefi
Abstrak
Kecerdasan emosional hakekatnya merupakan suatu kemampuan untuk memahami emosi diri, mampu mengelola emosi diri, memotivasi diri, memahami emosi dalam diri orang lain, serta mampu membina hubungan antar manusia. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik, tentu akan dapat memahami keadaan di sekitar kehidupannya, Dengan kemampuan menjaga tingkat stabilitas emosionalnya dan mampu memotivasi dirinya, diharapkan sesorang akan mampu melakukan kegiatan/pekerjaan dengan baik, serta dapat meraih prestasi secara sempurna.
Keynotes: Emotional Intelegent, cognitive skill and knowlegde

PENDAHULUAN
Kecerdasan atau intelegensi sudah lama diketahui dan dipelajari manusia. Sekitar tahun 1900 – 1925, pertanyaan “Apa itu kecerdasan atau inteligensi”, hangat dibicarakan oleh para ahli psikologi, dan hasilnya konsepsi kecerdasan atau inteligensi, mereka bagi kedalam lima kelompok, sebagaimana yang dinyatakan oleh Sumadi Suryabrata, yaitu :
1. Konsepsi bersifat spekulatif. Berdasarkan konsepsi ini, menurut Thorndike: inteligensi adalah sebagai hal yang dapat dinilai dengan taraf ketidaklengkapan dari kemungkinan-kemungkinan dalam perjuangan hidup individu.
2. Konsepsi bersifat pragmatis. Boring menyatakan bahwa inteligensi adalah apa yang dites oleh tes inteligensi (Intellegence is what the tests test), dan Terman mendefinisikan inteligensi sebagai sesuatu yang diukur sesuai dengan definisinya.
3. Konsepsi berdasarkan atas analisis faktor, yang menurut Spearman, inteligensi merupakan sifat hakikat tingkah laku yang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor umum (general factor) yang mempengaruhi segala tingkah laku (dilambangkan dengan huruf g) dan faktor khusus (spesial fakror) yang mempengaruhi salah satu tingkah laku.
4. Konsepsi bersifat operasional, dimana tidak ada kesepakatan antara para ahli psikologi tentang definisi kecerdasan atau inteligensi.
5. Konsepsi berdasarkan atas analisis fungsional, yang menurut Binet, sifat hakikat inteligensi : 1) kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan tujuan tertentu, 2) kemampuan untuk melakukan penyesuaian untuk mencapai tujuan tertentu, dan 3) kemampuan untuk mengkritik diri karena melakukan suatu kesalahan (otokritik). 1

PEMBAHASAN
Kelebihan kecerdasan manusia dari makhluk-makhluk lain dikarenakan manusia memiliki otak yang merupakan massa protoplasma yang paling kompleks, yang terdiri atas tiga bagian dasar, yaitu: batang atau ‘otak reptil’, sistem lembik atau ‘otak mamalia’, dan neokorteks, yang masing-masing bagian mempunyai struktur dan tugas tertentu.
Otak yang dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang dapat menimbulkan rangsangan, akan dapat berfungsi lebih dari seratus tahun. Ketiga bagian otak tersebut berada pada masing-masing dari kedua belahan otak manusia, yang disebut ‘otak kanan’ dan ‘otak kiri’. Kedua belahan otak itu mempunyai tugas tertentu terhadap cara berpikir, walaupun ada interaksi kedua belahan tersebut. Otak kiri merupakan pusat logika dan proses berpikir, bersifat teratur, logis, rasional dan linear, sehingga otak kiri melakukana tugas-tugas berpikir verbal, membaca, menulis, fonetik, simbol, menempatkan detail dan fakta, dan asosiasi auditorial. Sedangkan otak kanan merupakan pusat emosi, cara berpikir otak kanan bersifat tidak teratur, intuitif dan acak, dan tugas yang diembannya bersifat non verbal seperti perasaan dan emosi, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi.2
Tidak dapat ditentukan mana otak yang paling penting, otak kiri ataukah otak kanan, karena kedua-duanya sangat penting dan memiliki peranan dalam kehidupan. Diperlukan keseimbangan ‘pengasahan’ otak kiri dan otak kanan, agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan. Kecenderungan penggunaan otak kiri dalam kehidupan menyebabkan ketidakseimbangan yang berakibat stres dan buruk bagi kesehatan mental dan fisik.

Jenis – Jenis Kecerdasan
Banyak pendapat para ahli dalam mengklasifikasikan kecerdasan berdasarkan pola kerja otak kiri dan otak kanan tersebut, namun yang jelas mereka tidak hanya mengeksistensikan dan mengagungkan kecerdasan intelektual atau IQ saja, ada kecerdasan lain disamping itu, sebagaimana pendapat Howard Gardner tentang kecerdasan. Menurutnya kecerdasan terdiri dari delapan (8) tipe yaitu :
1. Kecerdasan berbahasa (linguistic intelligence), yaitu kemampuan menggunakan bahasa secara efektif, baik lisan atau tertulis, termasuk penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain, mengingat informasi, memberi informasi, membahas bahasa itu sendiri, memanipulasi tata bahasa, fonologi atau semantik.
2. Kecerdasan logika (logical-mathematical intelligence), yaitu kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar, termasuk kepekaan terhadap pola, hubungan logis, dalil, hukum, fungsi logis dan abstraksi – abstraksi.
3. Kecerdasan bentuk (spatial intelligence), yaitu kemampuan mempersepsikan bentuk (spasial – visual) dan mentranspormasikannya, meliputi kepekaan terhadap warna dan garis serta hubungan warna, garis dengan bentuknya. Kecerdasan ini termasuk kemampuan mengasosiasikan, mempresentasikan dan mengorientasikan diri secara baik dalam matrik spasial.
4. Kecerdasan gerak (bodily-kinesthetic intelligence), yaitu kemampuan menggunakan seluruh anggota tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, termasuk mengubah sesuatu secara tepat, meliputi kemampuan fisik yang khas, seperti keseimbangan, kekuatan, kelenturan, kecepatan, keterampilan dan koordinasi tubuh, serta kemampuan menerima rangsangan dari sentuhan.
5. Kecerdasan musik (musical intelligence), yaitu kemampuan mengolah bentuk-bentuk musik melalui mempersepsikannya, membedakan dan menggubahnya. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap irama musik, pola nada dan warna suara.
6. Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence), yaitu kemampuan seseorang mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Termasuk juga kemampuan kepekaan terhadap wajah, suaru, gerak isyarat orang lain, kemampuan membedakan dan menanggapi tanda-tanda interpersonal dengan tindakan pragmatis tertentu.
7. Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence), yaitu kemampuan memahami diri sendiri terhadap kelebihan dan kekurangan dan melakukan tindakan atas dasar pemahaman tersebut, memahami dan menghargai diri sendiri, sadar akan suasana hati, motivasi, sifat dan keinginan diri.
8. Kecerdasan alam (Naturalist intelligence), yaitu kemampuan mengenali dan mengkatagorikan spesies flora dan fauna, peka terhadap fenomena alam. 3

Dari kedelapan tipe kecerdasan diatas, nampaknya Gadner tidak melibatkan sedikitpun tentang kecerdasan ruhaniah (Spiritual intelligence). Sedangkan Toto Tasmara berpendapat bahwa setiap individu memiliki perasaan adanya “kekuatan spiritual”.4 Menurutnya kecerdasan dikelompokkan kedalam 5 tipe, yaitu :
1 Kecerdasan ruhaniah (spiritual intelligence), yaitu suatu kemampuan seseorang untuk mendengar hati nuraninya, baik dan buruk, serta rasa moral dalam upayanya menempatkan diri dalam pergaulan dengan orang lain.
2 Kecerdasan logika (logical mathematical intelligence), yaitu kemampuan seseorang untuk memanfaatkan potensi berpikir logika, berhitung, menganalisa dan matematik.
3 Kecerdasan emosional (emotional intelligence), yaitu kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri, bersabar dan memahami irama, nada, musik serta nilai-nilai seni dan budaya.
4 Kecerdasan sosial (social intelligence), yaitu kemampuan seseorang dalam menjalin hubungannya dengan orang lain, secara individu ataupun berkelompok, termsuk kemampuan memahami kebutuhan diri (interpersonal skiil) dan kebuthan orang lain (intrapersonal skill).
5 Kecerdasan fisik (bodily-kenerthetic intelligence), yaitu kemampuan seseorang dalam mengkoordinasikan anggota tubuh dan memainkan isyarat tubuhnya.5
Walaupun pengklasifikasian Toto Tasmara terhadap kecerdasan tidak serinci Gadner, tetapi tampaknya cukup lengkap. Ia menganggap kecerdasan ruhaniah merupakan inti dari seluruh kecerdasan manusia, sebab ruhiyah merupakan rasa yang paling fitrah, sebuah potensi yang secara hakiki ditiupkan ke dalam setiap tubuh manusia ruh kebenaran, yang selalu mengajak kebenaran.6 Menurut Ginanjar kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual disatukan menjadi kecerdasan emosional-spiritual (Emotional Spiritual Quetiont) atau ESQ.7

Kecerdasan emosional
Istilah “Kecerdasan Emosional” pada mulanya dilontarkan pada tahun 1990 oleh dua orang ahli psikologi, yaitu Peter Salovey dari Universitas Harvard, dan Jhon Mayer dari Universitas New Hampshire. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh Goleman, seorang psikologi dan penulis buku Emotional Intelligence untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas keterampilan ini mencakup: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, empati dan membina hubungan dengan orang lain. 8
Pada dasarnya pengertian Kecerdasan emosional tidak dapat lepas dari pengertian emosi. Emosi berasal dari kata latin moreve, yang artinya “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalam “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Goleman mendefinisikan emosi sebagai perasaan dan pikiran khas; suatu keadaan biologik dan psikologik; suatu rentang kecenderungan-kecenderungan untuk bertindak 9.
Salovey dan Mayer menggunakan istilah Kecerdasan emosional sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan dengan kata lain kecerdasan emosional untuk menggambarkan sejumlah keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merancanakan dan meraih tujuan kehidupan. Menurut Cooper dan Sawaf, kecerdasan emosional adalah kemampuan mengindera, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi, informasi, hubungan dan pengaruh yang manusiawi.10
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan yang sebagian besar diperoleh dari pengalaman, itu berarti kecerdasan emosional umumnya dapat ditingkatkan melalui latihan yang serius. Hal ini tentu akan memberikan harapan dan optimisme baru terhadap dunia pendidikan, karena kecerdasan emosional umumnya dapat dikembangkan.
Biasanya dalam kehidupan manusia ada keseimbangan antara pikiran emosional dan pikiran rasional. Emosi memberikan masukan dan informasi kepada proses pikiran rasional dan pikiran rasional memperbaiki dan terkadang memveto masukan-masukan emosi tersebut. Namun demikian, pikiran emosional dan rasional merupakan kemampuan-kemampuan yang semi mandiri, masing-masing mencerminkan kerja jaringan sirkuit yang berbeda, tetapi saling terkait di dalam otak. Emosi mewarnai persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan lingkungan serta berdampak terhadap perilaku seseorang. Dalam hal ini emosi mempengaruhi fungsi fisik dan mental, sikap, rasa suka dan nilai.
Beberapa pengertian diatas menunjukkan bahwa emosi mempunyai makna penting bagi manusia. Emosi menjadi energi penting yang mengaktifkan nilai-nilai seperti integritas, keuletan, kredibilitas, serta kemampuan bersosialisasi yang tergambar pada kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan dengan individu lain yang saling menguntungkan dan didasarkan pada rasa saling percaya.
Dalam struktur otak manusia, pusat emosi terbentuk dari batang otak yang mengelilingi ujung atas sumsum belakang kepala manusia 11 Batang otak inilah yang mengatur fungsi dasar kehidupan manusia seperti bernapas dan mengatur metabolisme organ-organ tubuh lain, serta mengendalikan reaksi-reaksi dan gerakan dengan pola yang sama. Batang otak merupakan serangkaian regulator yang telah diprogram untuk menjaga tubuh berfungsi sebagaimana mestinya dan bereaksi terhadap suatu yang membahayakan kelangsungan hidup. Batang otak sebagai pusat emosi mempunyai jalinan penghubung ke otak berpikir (neocortex). Jalinan ini membuat pusat emosi mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhi berfungsinya bagian otak lainnya, termasuk pusat pikiran atau otak berpikir. Neocortex merupakan tempat pikiran dan memuat pusat-pusat yang menyimpulkan dan memahami apa-apa yang diserap oleh indera. Disamping itu, neocortex memungkinkan adanya kepelikan dan kerumitan kehidupan emosional, misalnya kemampuan individu untuk memiliki perasaan mengenai perasaannya sendiri.
Istilah atau terminology kecerdasan pada awalnya selalu berkonotasi pada kecerdasan yang bersifat kognitif yang digambarkan oleh nilai IQ (Intelligence Quatient) yang dimiliki individu. Selain itu IQ diyakini sebagai satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan masa depan seseorang. Tes IQ yang diberlakukan di masyarakat umumnya menggali kemampuan dasar logika, bahasa dan matematika. Usai menjalani rangkaian pengujian, seseorang dinilai tingkat kecerdasan, apakah sangat cerdas, cerdas, rata-rata atau kurang cerdas. Dari situ akan diramalkan keberhasilan bidang akademik atau karirnya kelak.
Dalam perkembangannya kemudian, cara berpikir yang menempatkan IQ sebagai faktor utama dalam menunjang keberhasilan individu telah berubah. Hasil penelitian terbaru dalam psikologi menunjukkan bahwa ada kecerdasan lain yang sama pentingnya dengan IQ dalam menentukan keberhasilan seseorang yang disebut kecerdasan emosional.
Hal tersebut didasarkan pada adanya temuan dalam banyak anak-anak yang cerdas ternyata mengalami kegagalan dalam karir akademis ataupun kehidupan sosialnya. Sebaliknya mereka sukses justru hanya memiliki taraf kecerdasan yang rata-rata. Akhirnya ditemukan jawaban bahwa tes IQ hanya mengukur sebagian kecil kemampuan manusia, belum melihat keterampilan manusia dalam menghadapi tantangan hidup.
Amigdala adalah sel otak yang menghubungkan antara kecerdasan inteligensi dengan kecerdasan emosional, yaitu antara kemampuan kognitif dengan kemampuan mengendalikan emosi sehingga orang menjadi sukses. Rasa sedih, marah, takut, nafsu dan lain-lain sangat tergantung pada amigdala. Jika amigdala dipisahkan dengan bagian-bagian otak lainnya, hasilnya adalah ketidakmampuan yang amat mencolok dalam menangkap makna emosional suatu peristiwa. Kehilangan bobot emosional menyebabkan peristiwa-peristiwa tidak mempunyai makna. Orang yang amigdalanya terpotong tanpa sengaja dalam suatu operasi otak misalnya, akan sulit mengenal berbagai emosi dalam dirinya, apalagi mengekspresikannya, bahkan ia tidak mengenal lagi ibunya, dan tetap pasif meskipun menghadapi kecemasan. Amigdala berfungsi sebagai semacam gudang ingatan emosional, dan dengan demikian hidup tanpa amigdala merupakan kehidupan tanpa makna pribadi.
Hal yang paling menarik yakni bagaimana arsitektur otak memberi tempat istimewa bagi amigdala sebagai penjaga emosi, penjaga yang mampu membujuk otak. Sinyal-sinyal indera dari mata atau telinga telah lebih dahulu berjalan di otak menuju thalamus, kemudian melewati sebuah sinaps tunggal menuju ke amigdala; sinyal kedua dari thalamus disalurkan ke neokorteks otak yang berpikir. Percabangan ini memungkinkan amigdala mulai memberi respon sebelum neocorteks, yang mengelola informasi melalui beberapa lapisan jaringan otak sebelum otak sepenuhnya memahami dan pada akhirnya memulai respons yang telah diolah lebih dulu. Usaha yang dilakukan untuk memahami kehidupan emosional ini sangat penting dalam mengamati jalur saraf untuk perasaan yang melangkahi peran neokorteks. Perasaan yang menempuh jalan pintas menuju amigdala mencakup perasaan yang paling primitive dan berpengaruh; sirkuit ini sangat bermanfaat untuk menjelaskan kekuatan emosi yang mengalahkan rasionalitas. Amigdala dapat menyimpan ingatan dan repertoar respons, sehingga kita bertindak tanpa betul-betul menyadari mengapa kita melakukannya, karena jalan pintas ini agaknya memungkinkan amigdala untuk menjadi gudang kesan dan ingatan emosional yang tak pernah kita ketahui sewaktu sadar penuh.
Terjadinya peristiwa dimana kekuatan emosi dapat mengalahkan rasio yakni karena amigdala mampu mengambil alih kendali tindakan sewaktu otak masih menyusun keputusan. Kemungkinan terjadinya “Pembajakan” emosi ini lebih besar pada orang yang memiliki kecerdasan emosi rendah, atau karena otak mereka dirakit dalam suasana tegang. Adanya kemungkinan pembajakan emosi ini, maka dapat diketahui bahwa emosi bisa membahayakan. Orang yang tidak mampu mengendalikan emosi, cenderung menunjukkan reaksi implusif berlebihan dan mudah merasa terancam atau tersingkirkan, misalnya disekeliling kita sering terjadi tindak kekerasan hanya karena masalah sepele.
Dari uraian diatas, tampak bahwa manusia mempunyai dua kecerdasan yang berbeda, yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasan inteligensi. Kecerdasan Intelektual dapat digunakan untuk mengukur dan meramalkan sukses akademis, namun tidak dapat menjamin untuk meramalkan keunggulan di luar dinding sekolah. Sukses adalah kemampuan untuk menentukan dan mencapai sasaran pribadi dan pekerjaan apapun bentuknya. Oleh Goleman diungkapkan bahwa setinggi-tingginya kecerdasan intelektual hanya menyumbang kira-kira 20 % bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sisanya sebesar 80 % diisi oleh kekuatan-kekuatan lainnya. Selanjutnya dikatakan bahwa “status” akhir seorang dalam masyarakat pada umumnya ditentukan oleh factor-faktor bukan kecerdasan inteligensi saja, melainkan juga oleh kecerdasan emosional 12 Hal ini sejalan dengan Shapiro, bahwa kecerdasan emosional bukanlah lawan kecerdasan intelektual, namun keduanya berinteraksi secara dinamis baik pada tingkat konseptual maupun pada tingkat dunia nyata.13
Dalam dunia pendidikan formal, kecerdasan intelektual kelihatannya lebih berperan dominan dari kecerdasan emosional. Suatu kecerdasan yang dibutuhkan untuk dapat memahami dunia kognitif pengetahuan, penalaran dan abstraksi pembelajaran. Dunia kecerdasan emosional lebih dominan digunakan dalam dunia kerja dalam menghadapi kenyataan dan tantangan permasalahan yang kadangkala sangat membutuhkan perasaan dan intuisi untuk dapat tetap hidup (survive).
Kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual berasal dari dua sumber yang sinergis; tanpa yang lain menjadi tidak lengkap dan tidak efektif. Kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan emosional tidak menghasilkan apa-apa. Dengan kecerdasan intelektual tinggi yang tidak diimbangi oleh kecerdasan emosional yang baik, maka keunggulan kecerdasan intelektual bisa mengarah kepada hal-hal yang merugikan masyarakat.
Wewenang kecerdasan emosional adalah hubungan pribadi dengan orang lain; dia bertanggung jawab untuk penghargaan diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan adapatasi sosial. Ini berarti bahwa dengan kecerdasan emosional memungkinkan kita untuk memilih apa yang harus dilakukan, pekerjaan apa yang akan diambil, dan bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain.
Hasil penelitian Jack Block, sebagaimana diungkapkan Goleman, telah membuat suatu perbandingan antara dua tipe murni teoritis; orang yang kecerdasan intelektual tinggi dan orang yang kecerdasan emosional tinggi yang disajikan sebagai berikut :
a. Pria tipe murni kecerdasan intelektual tinggi (dengan mengesampingkan kecerdasan emosionalnya) pada umumnya punya rangkaian kemampuan dan minat intelektual, penuh ambisi, produktif, dan tekun, juga tidak risau oleh urusan tentang diri sendiri. Mereka cenderung bersikap kritis, meremehkan, pilih-pilih dalam berteman dan malu-malu. Selain itu, pria tipe ini cenderung kurang menikmati seksualitas dan pengalaman sensual, kurang ekspresif, selalu menjaga jarak, membosankan dan dingin.
b. Pria yang kecerdasan emosional tinggi (dengan mengesampingkan kecerdasan intelektual) biasanya secara sosial mantap, muda bergaul dan jenaka, serta tidak mudah takut atau gelisah. Mereka umumnya berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang atau permasalahan untuk memikul tanggung jawab. Mereka umumnya juga simpatik dan hangat dalam hubungan social. Kehidupan emosi mereka kaya tapi wajar, merasa nyaman dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia lingkungan pergaulannya.
c. Wanita yang kecerdasan intelektual tinggi, cenderung memiliki keyakinan intelektual yang tinggi, lancar mengemukakan gagasannya, menghargai masalah intelektual, serta memiliki minat intelektual dan estetika yang amat luas. Mereka juga cenderung mawas diri, mudah cemas dan gelisah serta merasa bersalah, juga ragu untuk mengungkapkan kemarahan serta kurang dapat terbuka (meskipun akhirnya mengungkapkan perasaan itu secara tak langsung).
d. Wanita yang kecerdasan emosional tinggi cenderung bersikap tegas dan mengungkapkan perasaannya secara langsung, serta memandang dirinya secara positif. Kehidupan memberi makna kepada mereka. Mereka mudah bergaul dan ramah, bisa mengungkapkan perasaan dengan takaran wajar (misalnya, tidak meledak-ledak yang kemudian disesalinya), serta mampu menyesuaikan diri dengan beban stress. Kemantapan pergaulan membuat mereka mudah menerima orang-orang baru, cukup nyaman dengan diri sendiri sehingga selalu ceria, spontan, juga terbuka terhadap pengalaman sensual. Mereka jarang cemas atau merasa bersalah atau tenggelam dalam kemurungan. 14
Salovey and Mayer, mengemukakan bahwa ada lima komponen kecerdasan emosional yaitu :
1. Capacity for self-awareness, yaitu kemampuan mengenal emosi diri sendiri;
2. Skill in managing emotions, yaitu kemampuan mengelola emosi;
3. Power to motivate oneself, yaitu kemampuan untuk memotivasi diri sendiri;
4. Ability to empathize with others, yaitu kemampuan untuk empati terhadap orang lain;
5. Ability to deal with relationships, yaitu kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain. 15
Kelima wilayah utama kecerdasan emosional tersebut akan diuraikan secara singkat dibawah ini:
Mengenali emosi diri ; kesadaran diri untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Kesadaran diri merupakan prasyarat bagi keempat wilayah utama lainnya. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang andal bagi kehidupan mereka, karena mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan sampai pada masalah pribadi.
Kita tidak mungkin bisa mengendalikan sesuatu yang tidak kita kenal, jika kita tidak menyadari perbuatan kita. Tanpa kesadaran diri, meskipun kita telah bersungguh-sungguh berupaya untuk menyelesaikan permasalahan satu demi satu, kita tidak bisa memantau kemajuan yang telah diraih, dan kesempatan kita untuk mencapai sasaran akan sangat terkendali. Dengan adanya kesadaran diri maka seseorang dapat mengetahui keadaan mereka, dan dengan mengetahui keadaan mereka maka dapat mengubah perilaku mereka agar menjadi lebih baik.
Mengelola emosi. Mengelola emosi adalah salah satu pekerjaan yang cukup sulit, namun jika emosi dapat dikuasai, tentu emosi dapat “dikelola dengan baik”, dalam artian tercipta keseimbangan emosi atau pengendalian emosi. Salah satu kemampuan mengelola emosi adalah menyesuaikan emosi, pikiran dan perilalku dengan perubahan situasi dan kondisi. Unsur kecerdasan emosi ini mencakup seluruh kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak biasa, tidak terduga dan dinamis. Orang yang fleksibel adalah orang yang tangkas, mampu bekerja sama yang menghasilkan sinergi, dan dapat menanggapi perubahan secara luwes. Orang seperti ini bersedia berubah pikiran jika ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka salah. Pada umumnya mereka terbukti dan mau menerima gagasan, orientasi, cara dan kebiasaan yang berbeda. Namun demikian, individu yang menyangkal emosi yang mendalam dapat menyebabkan diskoneksi. Diskoneksi ini dapat mengakibatkan seseorang kehilangan sentuhan dengan aspek-aspek yang berkaitan dengan keberadaan dirinya . Ia cenderung menjadi orang yang mudah tersinggung, penakut, penyangkal dan takut terhadap kritik.
Memotivasi diri sendiri. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan . Dalam rumusan tersebut mengandung tiga elemen penting yang saling berkaitan yaitu : (1). Motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia, yang penampakannya menyangkut kegiatan fisik manusia, (2) Motivasi ditandai dengan munculnya “rasa/feeling”, afeksi seseorang yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia, (3) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Motivasi merupakan respon dari suatu aksi yaitu tujuan yang muncul dari dalam diri karena terangsang/terdorong oleh adanya tujuan/kebutuhan. Memotivasi diri untuk mencapai tujuan nampaknya terdengar sederhana, padahal betapa berat. Kita harus mampu menunda keinginan yang melenceng dari tujuan, mengabaikan godaan, dengan kata lain penundaan pemuasan yang dipaksakan kepada diri sendiri, demi suatu sasaran, mungkin merupakan inti pengaturan emosional diri yang merupakan kemampuan melawan dirinya demi tercapainya sasaran.
Mengenal emosi orang lain. Empati merupakan kemampuan untuk mengenali perasaan dan keinginan orang dari kacamata si orang tersebut. Orang yang empatik tinggi lebih mampu menangkap sinyal-sinyal social yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. Dengan kata lain, kemampuan berempati ikut berperan dalam arena pergulatan kehidupan, mulai dari mendidik anak dirumah hingga mendidik siswa di sekolah. Yang dikehendaki orang sesungguhnya hanyalah kita berusaha menyadari apa yang mereka rasakan dan mengakui bahwa perasaan mereka sama pentingnya seperti perasaan kita bagi kita sendiri. Orang yang memiliki empati tinggi pandai membaca emosi orang lain, juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Sebab, semakin terbuka pada emosi diri sendiri, maka semakin mampu untuk mengenal dan meyakini emosi kita, yang pada gilirannya memudahkan kita membaca perasaan orang lain. Sebaliknya apabila tidak mampu membaca perasaan sendiri, akan sulit membaca emosi orang lain yang tersirat halus. Kemampuan membaca perasaan orang lain meningkat dengan bertambahnya pengetahuan seseorang mengenai emosi diri sendiri atau orang lain. Untuk itu dianjurkan agar mengkomunikasikan perasaan kita kepada teman yang lebih dekat secara lebih intensif.
Membina hubungan. Seni membina hubungan dengan orang lain erat kaitannya dengan keterampilan mengelola emosi orang lain. Untuk dapat membina hubungan dengan orang lain, terlebih dahulu kita harus mampu mengenal dan mengelola emosi mereka dengan cara mengendalikan diri, mengendalikan emosi yang mungkin berpengaruh buruk dalam hubungan sosial, menyimpan kemarahan, membebaskan stress tertentu dan mengekspresikan perasaan diri. Tanggung jawab sosial adalah kemampuan untuk menunjukkan pada kita sebagai anggota kelompok masyarakat yang dapat bekerja sama, berperan, dan bersifat konstruktif. Orang yang mempunyai tanggung jawab sosial memiliki kepekaan antar pribadi dan dapat membina hubungan demi kebaikan bersama. Orang yang memiliki keterampilan mengelola emosi orang lain akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain, selain itu keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan inti seni memelihara hubungan sosial, untuk menggerakkan dan mengilhami orang lain membina kedekatan hubungan sosial yang nyaman. Dalam mengembangkan kelima wilayah utama kecerdasan emosional, perlu dipahami bahwa kelimanya tidak berkembang secara serentak. Ada orang yang tekun sekali, mampu memotivasi diri sendiri dengan baik namun kurang mampu memperatikan emosi orang lain apa lagi mengelolanya. Ada juga yang mudah mengenal emosi sendiri namum kerap tak mampu mengelola dengan baik. Ada yang mampu mengatasi rasa cemas dengan baik, namun sulit sekali mengendalikan kemarahan. Namun demikian yang cukup memberi harapan adalah realitas bahwa pusat emosi merupakan bagian yang bersifat plastis, bisa terus dibentuk, dengan kata lain, bagian-bagian yang kurang berkembang, bisa dioptimalkan dengan latihan tertentu.

KESIMPULAN
Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain, kemampuan-kemampuan yang berbeda tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik (academic intelligence) yaitu kemampuan-kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Adapun ciri-ciri seseorang memiliki kecerdasan emosional adalah : (1) memiliki kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, (2) mampu mengendalikan dorongan hati dan tidak berlebih-lebihan kesenangan, (3) mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, dan (4) berempati dan berdo’a.

DAFTAR PUSTAKA

Ary Ginanjar Agustian.2004. ESQ (Emotinal Spiritual Quationt). Jakarta: Arga

Bobbi De Porter & Mike Hernacki. 2003. Quantum Learning, terjemahan Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.

Daniel Goleman. 2005. Emotional Intelligence, Alih Bahasa T. Hermaya. Jakarta : PT SUN.

Hamachek, Don. 2000. Dynamics of Self Undersanting and Self Knowledge: acquisition, advantages, and relation to emotional intelligence. Journal Of Humanistic Counseling, Educational and Development, v. 38 (No. 4 June 2000).

John O’Neil.1996.On emotinal intelligence: a conversation with Daniel Goleman. Educational Leadership.

Lawrence E Shapiro. 1997. Mengajarkan Emosional Intelligence pada Anak,
diterjemahkan oleh Alex Tri Kantjono. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Thomas Armstrong. 2004. Sekolah Para Juara, terjemahan Yudhi Mertanto. Bandung: Kaifa.

Toto Tasmara. 2001. Kecerdasan Ruhaniah. Jakarta: Gema Insani Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s